"Buang-buang waktu" jadi frasa yang sering kali didengar dan digunakan orang-orang. Tentu ini adalah sebuah metafora yang seharusnya tidak dilihat secara harfiah semata. Tapi, rasanya tetap lucu dan kurang masuk akal — karena tanpa disadari, frasa ini menempatkan beban tak kasat mata bahwa kita sebagai individu perlu terus-menerus "produktif".
Awalnya, metafora buang-buang waktu ini terus berkelebat ketika hari sedang kosong: sedang tidak ada kegiatan yang perlu/harus dikerjakan, juga sedang tidak ada yang perlu dipikirkan/kepikiran. Jadinya, hari itu banyak diisi dengan berdiam diri dan melamun saja. Tapi, perasaan bersalah muncul terus-menerus. Ya, sebab itu tadi: rasanya hanya buang-buang waktu saja jika tidak melakukan apa pun, dan akhirnya menekan diri sendiri untuk berbuat sesuatu.
Perasaan tertekan untuk terus-terusan berbuat sesuatu mungkin dipengaruhi oleh keadaan masa kini: setiap detik ada informasi baru, setiap hari ada saja musisi yang mengeluarkan lagu/album baru, para youtuber unggah video baru setiap dua hari sekali, dan lain-lain. Itu hanya segelintir contoh di kehidupan sehari-hari. Maka, tidak heran jika penilaian terhadap diri sendiri sering kali dikaitkan dengan seberapa banyak yang sudah kita hasilkan (baik secara harfiah ataupun metaforis).
Beberapa waktu lalu sempat membaca cerita pendek (cerpen) dari Seno Gumira Ajidarma, judulnya "Senja di Pulau Tanpa Nama". Rasa kantuk terus muncul sepanjang membaca cerpen itu. Entah memang sedang lelah, atau memang konflik dalam cerpen itu tidak terlalu intens dan resolusinya pun sekadar memuaskan sehingga tidak ada yang terlalu memikat dan mengikat perhatian hingga akhir. Tapi, dari sini muncul kesadaran baru: mungkin hidup juga boleh seperti itu.
Tidak melulu harus membuat sesuatu yang bombastis.
Tidak melulu harus mengerjakan sesuatu yang besar.
Tidak melulu harus melakukan sesuatu yang bisa menggetarkan dunia.
Kesadaran ini masih agak aneh untuk diterima. Sebab, ya itu tadi, pola pikir 'harus terus-menerus berbuat sesuatu' sudah sangat mendarahdaging sehingga sulit untuk diutak-atik pendiriannya. Tidak apa-apa. Semoga pelan-pelan bisa mulai memberi keramahan terhadap diri sendiri, bahwa hidup tidak perlu melulu berbuat sesuatu, bahwa boleh juga untuk berdiam dan melamun tanpa melakukan apa pun.
Mari rayakan melamun dan mengkhayal lagi.*
*Walaupun sedang tidak ada yang diimpikan.
*Khayalkan yang receh-receh saja.
Comments
Post a Comment